UNIVERSAL SOLDIER: DAY OF RECKONING (2012)

Director(s): John Hyams Cast: Scott Adkins, Andrei Arlovski, Dolph Lundgren, Jean-Claude Van Damme, Mariah Bonner, Kristopher Van Varenberg Runtime: 114 minutes Star: 

Universal Soldier adalah franchise yang underrated. Lahir di tahun 1992 silam dari tangan sineas Roland Emmerich yang gemar menggarap film-film bertemakan disaster berbujet besar seperti Independence Day (1996), Godzilla (1998), hingga 2012 (2009), filmnya terhitung menghibur sebagai tontonan aksi sci-fi blockbuster yang mempertemukan dua ikon laga; Jean-Claude Van Damme dan Dolph Lundgren untuk pertama kalinya di layar lebar. Kesuksesannya menelurkan dua sekuel yang dibuat secara back-to-back enam tahun setelahnya; Universal Soldier II: Brothers in Arms dan Universal Soldier III: Unfinished Business, yang meski melanjutkan sepak terjang Luc Deveraux dan Veronica Roberts (dua karakter yang sebelumnya diperankan Van Damme dan Ally Walker), namun jajaran cast-nya digantikan oleh wajah-wajah yang sama sekali berbeda dan hanya ditayangkan lewat medium layar kaca saja. Setahun kemudian, Universal Soldier: The Return kembali diproduksi sebagai sajian layar lebar yang lagi-lagi memasang Van Damme sebagai Luc, di samping turut menampilkan debut karir film pegulat WCW; Bill Goldberg, dan menjual pertarungan klimaks Van Damme melawan Michael Jai White (Spawn, Black Dynamite). Namun, kontinuitas plot yang ada dalam The Return patut dipertanyakan. Selain mengabaikan segala peristiwa dalam dua sekuelnya itu, yang kemungkinan mengingat dianggap punya kualitas hanya sebatas tontonan televisi, karakter Luc dikisahkan telah kembali menjalani hidup sebagai manusia normal dengan peran yang sangat komikal. Bahkan lebih konyolnya lagi, mantan UniSol berkode GR44 ini sudah punya anak.

Dianggap telah mati selama satu dekade pasca buruknya kualitas tiga filmnya itu, franchise ini pada akhirnya dibangkitkan kembali oleh seorang sutradara debutan; John Hyams, yang tak lain adalah putra Peter Hyams, yang lebih dulu pernah berkolaborasi dengan Van Damme lewat film-film seperti Timecop (1994) dan Sudden Death (1995). Universal Soldier: Regeneration (2009), yang sekali lagi, mengabaikan seluruh instalmen-instalmen yang sudah ada kecuali versi 1992-nya, tak hanya sekadar bentuk upaya Hyams menghembuskan nafas baru dan menuntun franchise tentara super ini kembali ke jalan yang benar, namun juga menjadi ajang reuni Van Damme dan Lundgren, di samping turut menambahkan mantan juara UFC; Andrei Arlovski ke jajaran cast-nya sebagai UniSol generasi terbaru yang jauh lebih mematikan. Regeneration bisa dibilang sebuah kejutan, terutama untuk ukuran film direct-to-DVD (meski di beberapa negara sempat dirilis secara theatrical, termasuk Indonesia sendiri), sebab, memang tak ada yang mengharapkan dibuatnya film Universal Soldier terbaru selepas The Return, apalagi yang digarap begitu serius dan hasilnya ternyata cukup bagus. Tetapi, meski sekarang pun kita sadar akan kapabilitas Hyams, Universal Soldier: Day of Reckoning bahkan hadir lebih mengejutkan lagi. Siapa yang bakal menyangka jika film berikutnya akan seperti ini?

John (Scott Adkins), seorang suami sekaligus ayah, mengalami koma setelah dihajar habis-habisan dan dipaksa menyaksikan istri beserta anaknya dibunuh di hadapannya sendiri oleh sekelompok orang bertopeng yang menyatroni rumahnya. Terbangun di sebuah rumah sakit, John mendapat informasi bahwa salah satu pelaku pembantaian tersebut adalah Luc Deveraux (Van Damme), mantan UniSol yang kini berupaya mendirikan pasukan separatis di bawah komandonya. Bermodalkan halusinasi dan potongan-potongan memori yang tersisa, John berusaha menemukan Luc demi melaksanakan aksi balas dendamnya, sekaligus mencari tahu apa motif Luc mengincar keluarganya sejak awal. Namun, apa yang terungkap kemudian, faktanya jauh lebih kompleks dan mengejutkan dari yang John bayangkan.

Bagi yang sebelumnya pernah menyaksikan Regeneration, dengan membaca sinopsis yang saya tulis, tentunya merasa bahwa plot di instalmen keenamnya ini seakan tidak nyambung. Melihat jajaran cast dan posternya, penonton juga mungkin bertanya-tanya, kenapa Dolph Lundgren dan Andrei Arlovski muncul lagi di sini, apabila mengingat nasib yang dialami karakter mereka di Regeneration? Bahkan yang lebih membingungkan, mengapa Van Damme kini menjadi antagonis? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu, bersama dengan berbagai misteri lain yang tersimpan dalam narasinya, jelas akan membuat isi kepala penontonnya penuh dengan tanda tanya. Franchise Universal Soldier memang punya kronologi dan kontinuitas plot yang anehnya saling tak berkaitan satu sama lain. Satu-satunya hal yang masih dipertahankan dari satu seri ke seri lainnya adalah konsep UniSol-nya, serta eksistensi Van Damme dan Lundgren yang sudah dianggap begitu ikonik, meski keduanya bukan lagi tokoh utama. Karakter Luc tampaknya telah jauh berevolusi, di mana Hyams seakan ingin merevisi kesalahan The Return yang membuat Luc tampak seperti lelucon. Arlovski bukan lagi New Generation UniSol (NGU) yang dulu, di mana panggilan Magnus dan jenggot yang kini menghiasi wajahnya seakan menekankan perubahan itu. Dan, baik Arlovski maupun karakter Andrew Scott yang diperankan Lundgren, keduanya bisa dibilang merupakan hasil kloningan. Satu hal yang menarik, meski porsinya terbilang sedikit, namun karakter Andrew kali ini dibuat kembali mencerminkan versi orisinilnya, lengkap dengan line-line khasnya seperti, “That’s the spirit, soldier!

Pendekatan yang diterapkan Hyams kali ini memang unik, melampaui sekadar premis reanimated dead soldier yang terus dikembangkan menjadi rekayasa genetik dan kloningan. Day of Reckoning bagaikan sebuah sci-fi psychological horror thriller bernuansa noir ketimbang murni aksi, mengarah ke visual dan momen-momen surealis. Shotshot di lorong koridor, efek cahaya neon dan halusinasi yang disturbing, rumah bordil dan klub striptease, hingga sekuens POV dan long take yang sangat efektif, semuanya terasa serba eksperimental. Ditambah melibatkan alur cerita penuh twist dan sederet pertumpahan darah, tampaknya Hyams berupaya membawa franchise ini ke ranah yang berbeda ketimbang sekadar menyuguhkan film laga straight-forward, yang bagi sebagian kalangan mungkin terasa mengecewakan jika berharap tak lebih dari tema balas dendam semata seperti Hard to Kill (1990), The Punisher (2004), atau I Spit on Your Grave (1978/2010). Percayalah, bukan seperti itu. Melainkan, kali ini Hyams tampaknya terpengaruh novel-novel sci-fi karya Philip K. Dick yang kerap bermain-main dengan identitas tokohnya, di samping turut meminjam elemen-elemen Apocalypse Now (1979) hingga Blade Runner (1982).

Namun, jangan khawatir, karena beberapa sekuens pertarungan spektakuler tetap akan membayar lunas penantian Anda. Dipasangnya nama Adkins sebagai lead role berikut keterlibatan Larnell Stovall sebagai fight coreographer merangkap stunt coordinator bukanlah hanya pajangan belaka. Pasca kolaborasi terakhir mereka di Undisputed III: Redemption (2010) yang sukses menaikkan standar aksi bela diri begitu tinggi untuk ukuran di luar style Hong Kong/Thailand, tentunya banyak yang berharap keduanya bakal memberikan suguhan baku hantam yang jauh lebih dahsyat lagi. Apa yang mereka sajikan kali ini, harus diakui, memang tidak se-flashy itu, tetapi lebih ke pendekatan yang brutal dan mentah. Dari sekian pertarungan yang dihadirkan, masing-masing merupakan konfrontasi hampir setiap kombinasi yang Anda inginkan dari sederetan bintang laga yang ada. Mulai dari Arlovski vs. Lundgren, Arlovski vs. Adkins, Adkins vs. Lundgren, hingga Adkins vs. Van Damme sebagai puncaknya, kecuali Van Damme vs. Lundgren dan Van Damme vs. Arlovski karena memang sudah pernah disajikan di Regeneration. Favorit pribadi saya tentunya adalah Arlovski vs. Adkins, yang mengambil setting di sebuah toko peralatan olahraga, di mana keduanya saling membabi buta secara brutal. Dan, ini ketiga kalinya Adkins dan Van Damme kembali saling beradu jotos setelah The Shepherd: Border Patrol (2008) dan Assassination Games (2011). Sejenis Dragon Eyes (2012), rata-rata pertarungannya melibatkan sejumlah pengrusakan benda-benda di sekitar, selain kepalan tinju, kapak, tongkat baseball, hingga potongan anggota tubuh sebagai menu utamanya.

Advertisements

Posted on 23/01/2013, in Movies and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: