THE LAST STAND (2013)

Director(s): Kim Jee-woon Cast: Arnold Schwarzenegger, Forest Whitaker, Johnny Knoxville, Eduardo Noriega, Jaimie Alexander, Peter Stormare, Rodrigo Santoro, Zach Gilford, Luis Guzmán, Génesis Rodríguez Runtime: 107 minutes Star:

Menginjak kepala enam, kebanyakan aktor mungkin berpikir untuk pensiun selepas kerja kerasnya selama berkarir. Tapi, rupanya hal tersebut tak berlaku bagi sang Governator yang malah memutuskan kembali beraksi sebagai seorang action hero. Yup, sesuai tagline film ini, retirement is for sissies. Di era 80 hingga 90an, Arnold Schwarzenegger memang salah satu pentolan genre action. Tak ada yang bisa menggulingkan takhtanya sebagai seorang ikon laga yang sudah begitu melekat di memori penontonnya lewat beragam peran seperti dalam franchise Terminator (1984, 1991, 2003) Commando (1985), Predator (1987), Total Recall (1990), hingga True Lies (1994). Sempat rehat sejenak dari urusan akting dan terjun ke dunia politik, walau sesekali sempat muncul sebagai cameo, tampaknya membuat mantan Mr. Universe yang akrab dipanggil Arnie ini merindukan habitat lamanya. Dan, kali ini Arnie tak sendiri. Di belakangnya, ada nama Kim Jee-woon, sineas asal negeri ginseng yang karya-karyanya yang sudah diakui secara internasional seperti A Tale of Two Sisters (2003), The Good, the Bad, the Weird (2008), dan I Saw the Devil (2010). Kombinasi ini sendiri jelas sudah menjadi daya tarik yang membuat The Last Stand otomatis tak boleh dilewatkan.

Sheriff Ray Owens (Arnold Schwarzenegger) tengah menikmati hari liburnya di sebuah kota kecil tempat ia tinggal bernama Sommerton Junction yang terletak di dekat perbatasan Arizona. Deputi-deputi bawahannya tetap siaga menjaga keamanan lingkungan selagi para warga mendukung tim football lokal ke luar kota. Ketika gembong kartel narkoba paling berbahaya, Gabriel Cortez (Eduardo Noriega), berhasil lolos dari konvoi FBI dan sedang menuju Sommerton Junction mengendarai Corvette ZR1 dengan kecepatan tinggi guna menembus perbatasan Meksiko, Owens dan anak buahnya pun harus bersatu untuk menghentikan Cortez sebelum ia berhasil mencapai perbatasan dan meraih kebebasannya.

Di antara tiga ikon laga lawas – Arnie, Sylvester Stallone, dan Bruce Willis, yang di awal tahun 2013 ini film-filmnya menghiasi bioskop-bioskop kita, bisa dibilang The Last Stand yang justru tampil paling menghibur. Mengadopsi gaya film-film western klasik bernuansa modern seperti yang pernah diterapkannya lewat The Good, The Bad, The Weird, keakraban Jee-woon terhadap genre tersebut bukan menjadi satu-satunya alasan mengapa film ini tampil menyenangkan di samping tambahan humor-humor lepas yang muncul dari Johnny Knoxville dan Luiz Guzmán. Melainkan, Jee-woon seakan tak hanya memandang ekspektasi penonton terhadap peluang comeback-nya Arnie saja, tapi juga memahami kelebihan dan keterbatasan aktornya sendiri. Dari segi aksi, Jee-woon menyuntikkan banyak energi ke dalamnya melalui shot-shot dinamis dan gelaran kekerasan. Sekuens-sekuens aksinya yang digarap secara high octane dengan sentuhan stylish-nya justru yang membuat keseluruhan film ini terasa istimewa. Dalam kasus di sini, Jee-woon tak ubahnya seperti John Woo, Ringo Lam, atau Tsui Hark ketika pertama kali merintis karir di Hollywood.

Arnie pun masih memancarkan karismanya sebagai seorang action hero. Yup, ia memang sudah terlihat karatan di balik tubuhnya yang tak lagi dipenuhi otot. Untuk alasan itu pula, kali ini Arnie tampaknya membutuhkan dukungan karakter-karakter lain yang sayangnya meski memakan screen time lebih, tak semuanya berhasil dieksplor dengan seimbang untuk bisa mencuri perhatian, sehingga terkesan membuat The Last Stand tampil kurang maksimal. Tapi, justru fisik Arnie malah terasa pas untuk perannya sendiri, karena Ray Owens memang seorang sheriff di usia senjanya yang tetap sigap mempertahankan kotanya. Ini juga mengingatkan kita akan kemampuan unik Arnie dalam mengubah dialog sesimpel dan sedangkal apapun pun menjadi emas dengan aksen Austria kentalnya. Ketika ia mengucapkan, I’m the sheriff, atau schmuck dengan penuh keyakinan, kita tahu bahwa sang action hero telah benar-benar kembali. Bahkan Arnie diberi kesempatan beradu jotos yang cukup brutal dan seru di penghujung film. Terlepas dari kebanyakan close-up, penggunaan latar belakang green screen yang kelewat kentara, hingga penampilan Eduardo Noriega yang kurang sebanding sebagai lawannya, ide memasukkan sajian satu lawan satu di sini patut diapresiasi, mengingat hal itu sudah terbilang langka di film-film aksi belakangan ini.

Tentu saja, bagi yang mengharapkan ajang comeback Arnie ini sebagai sesuatu yang mendekati kejayaan era Terminator kemungkinan akan kecewa. The Last Stand tidak dimaksudkan untuk menjadi tontonan yang setara, atau peran sheriff Ray Owens yang dirancang sedemikian rupa agar terlihat ikonik. Mungkin alasan kenapa film ini faktanya gagal berbicara banyak di tangga box office disebabkan tak ada yang mengharapkan film ini bagus sejak awal. Bahkan di trailer-nya sendiri seolah tak ada jaminan kalau filmnya bakal menjadi pure mindless entertainment yang menyenangkan. Akhir kata, senang melihat Arnie akhirnya kembali beraksi di layar lebar. Anggap saja ini sebagai sebuah pemanasan. Welcome back, Arnie. Tak sabar untuk menanti kehadirannya dalam proyek-proyek berikutnya seperti The Tomb, Ten, dan terutama The Legend of Conan yang pastinya memancing penasaran.

Advertisements

Posted on 18/02/2013, in Movies and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: