THE HUMAN CENTIPEDE II (FULL SEQUENCE) (2011)

Director(s): Tom Six Cast: Laurence R. Harvey, Vivien Bridson, Ashlynn Yennie, Maddi Black, Kandace Caine, Dominic Borrelli, Bill Hutchens Runtime: 88 minutes Star:

Audiens mainstream biasanya tak pernah tersinggung sedemikian parahnya gara-gara mindless violence dalam sebuah film. Banyak kritik dan review negatif yang dilontarkan atas pendekatan baru Tom Six yang secara vulgar menunjukkan kekerasan eksplisit di film ini. Awalnya, The Human Centipede (First Sequence) yang terlebih dulu rilis 2009 silam memang sempat menuai kontroversi. Konsep sentral yang menengahkan ide pengoperasian seorang ilmuwan Jerman menyambung tiga orang sekaligus dengan mulut yang dijahit ke dubur dan hanya melalui satu saluran pencernaan memang mengejutkan banyak kalangan. Dengan premis sesinting itu, mudah diduga, filmnya kena potong beberapa menit dari durasinya, sementara peredarannya sendiri dicekal di beberapa negara. Beragam ekspektasi pun disematkan. Berbagai promo yang dilempar ke publik sukses membuat horor produksi Belanda ini meraih ketenaran yang digadang-gadang sebagai gebrakan baru dalam genre horor dengan cerita orisinil. Sayangnya, fakta berbicara lain. Saat visualisasi yang ditampilkan ternyata tidak semengerikan dari premis yang terdengar ‘menjanjikan’ itu, Tom Six malah dicemooh oleh para fans horor. Apa yang dihadirkan malah cenderung mengecewakan tanpa menawarkan substansi yang bisa membuat kisah sepanjang durasinya tetap menarik untuk disimak, terutama bagi fans horor sejati yang mencari tontonan unik dan disturbing. So, apa yang ditawarkan dalam sekuelnya ini di samping faktor kekerasan belaka yang membuatnya berbeda dari film pertamanya?

The Human Centipede II (Full Sequence) dibuka dengan opening yang sangat brilian. Ketimbang menampilkan opening credits seperti film-film konvensional, di sini penonton disuguhkan segmen kecil dari ending credits film The Human Centipede (First Sequence) itu sendiri, yang kemudian bertransisi ke sebuah kehidupan nyata seseorang yang tengah menontonnya. Orang itu adalah Martin Lomax (Laurence R. Harvey), seorang penjaga area parkir yang bertubuh kerdil, menderita asma, obesitas, cacat mental, dan sangat terobsesi dengan film The Human Centipede. Ayahnya mendekam di penjara gara-gara pernah melakukan pelecehan seksual terhadap Martin sewaktu kecil, ibunya sendiri seorang lanjut usia yang nampaknya tidak punya harapan hidup lagi dan hampir setiap malam berniat menghabisi Martin saat tidur terlelap. Sementara, seorang psikiater pria baya dengan dandanan nyentrik secara rutin datang hanya untuk menikmati dan memandangi bokong Martin. Kehidupan Martin benar-benar digambarkan suram dalam lingkungan keluarga yang disfungsional. Namun, Martin punya sebuah impian. Akibat obsesinya terhadap film Tom Six, ia ingin menciptakan ‘manusia kelabang’ buatannya sendiri yang berjumlah 12 orang. Secara perlahan namun pasti, Martin mulai mengumpulkan para korbannya. Bahkan hebatnya, ia berhasil mengecoh Ashlynn Yennie, salah satu aktris di film favoritnya itu untuk berperan serta, tanpa menyadari bahwa kali ini dirinya bakal menjadi ‘manusia kelabang’ sungguhan lewat serangkaian proses penyatuan yang sangat menyakitkan demi terciptanya sebuah maha karya dalam hidup Martin.

Dibalut format hitam putih yang memang memberikan nuansa gritty dan terasa kontras dengan tema kelam yang diusung, sesuai janjinya, Tom Six memang menghadirkan momen-momen kekerasan dengan kadar tingkat yang jauh lebih ekstrim dibanding film pertama yang diakuinya sendiri terlihat seperti film anak-anak; My Little Pony. Ke belakangnya, film ini menjadi semakin disturbing saat proses penyambungan tanpa bekal medis itu pun dimulai, di mana segalanya ditampilkan cukup frontal, yang sekaligus membuktikan bahwa omongan Tom Six kali ini bukan hanya isapan jempol belaka. Berbeda dengan Dr. Heiter di film pertamanya, sosok Martin bukanlah seorang ahli bedah. Martin sama sekali tidak punya pengetahuan atau peralatan medis yang akurat, sesuai dengan tagline-nya kali ini: 100% medically INACCURATE. Martin hanyalah seorang amatiran yang lahir dari jiwa kompulsif akibat obsesinya terhadap film favoritnya. Kendati demikian, ia mampu tampil jauh lebih superior ketimbang Dr. Heiter, dan merupakan salah satu figur villain fantastis dalam sejarah sinema horor. Meski tanpa didukung pengucapan sepatah kata pun sepanjang film, sungguh menakjubkan betapa kuatnya aura evil bisa terpancar di balik wujud Martin yang sedemikian tidak mengancam. Sederhananya, Martin adalah potret seorang penggemar fiktif The Human Centipede rekaan Six yang divisualisasikan sebagaimana stereotipnya seorang penggemar horror di mata masyarakat mainstream. Kinerja Lawrence R. Harvey di sini memang layak diacungi jempol. Sebagai pendatang baru yang belum punya nama, Harvey jelas memberikan apa yang disebut totalitas dan komitmen, di samping memang didukung fisik creepy yang dengan mudah menyita perhatian penonton.

Lalu, apa sebenarnya inti dari film ini? Bagi yang masih mempermasalahkan plot, hingga mempertanyakan soal moralitas ini itu, percayalah, you’re gonna miss the whole point. Di sini, Tom Six jelas bermaksud menjadikan segala sesuatunya sebagai metafora sekaligus sindiran tajam yang terselubung. The Human Centipede II (Full Sequence) adalah horor meta yang self-aware. Tidak hanya sekadar tampil cerdik, tetapi juga sanggup menunjukkan betapa besar nyali yang dimiliki seorang Tom Six kepada audiens. Dengan kata lain, The Human Centipede II (Full Sequence) lebih berupa sebagai a love/hate letter yang secara harfiah adalah pengekspresian ‘jari tengah’ Tom Six atas gempuran kritik yang menghujani film pertamanya, sekaligus menyindir sebagian fans horor yang dianggapnya terlalu serius menanggapi imajinasinya, di mana konteks 12 orang racikannya ini sebenarnya juga merupakan sebuah komedi. Ya, komedi yang benar-benar sakit! Tentunya, Tom Six akan kembali membuat sensasi yang kabarnya bakal menampilkan ‘manusia kelabang’ yang terdiri dari 500 orang di The Human Centipede III (Final Sequence) nanti.

Advertisements

Posted on 29/10/2012, in Movies and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: