6 BULLETS (2012)

Director(s): Ernie Barbarash Cast: Jean-Claude Van Damme, Joe Flanigan, Anna-Louise Plowman, Charlotte Beaumont, Steve Nicolson, Kristopher Van Varenberg, Bianca Bree Runtime: 115 minutes Star: 

Masih terasa segar setelah penampilan layar lebar terakhirnya di The Expendables 2 tempo hari, rupanya Jean-Claude Van Damme betah berkiprah di ranah film-film berlabel straight-to-video dibanding rekan-rekan sejawatnya seperti Sylvester Stallone atau Arnold Schwarzenegger yang mulai comeback ke sinema mainstream. Film yang awalnya diberi judul The Butcher ini mempertemukan kembali Van Damme dengan sineas Ernie Barbarash, setelah keduanya lebih dulu pernah berkolaborasi lewat Assassination Games (2011) yang turut menggandeng Scott Adkins (Ninja, Undisputed III: Redemption), namun sayang, hasilnya kurang begitu memuaskan.

Samson Gaul (Jean-Claude Van Damme) adalah veteran serdadu bayaran yang berdomisili di Moldova, Eropa Timur, dan dikenal sebagai yang terbaik dalam menangani kasus hilangnya anak-anak di bawah umur akibat human trafficking. Hingga pada satu misi, walau bisa dikatakan berhasil menuntaskannya dengan baik, aksi Samson berujung pada ikut terbunuhnya dua gadis korban trafficking dalam sebuah ledakan. Insiden itu memaksa dirinya untuk pensiun, melanjutkan hidup sebagai tukang daging di sebuah kedai kecil miliknya. Enam bulan telah berlalu, namun Samson masih terus dihantui oleh kematian korban-korbannya, dan lebih memilih menghabiskan waktu ditemani alkohol lantaran dirundung penyesalan yang tak berkesudahan. Di saat yang sama, seorang mantan juara mixed martial arts; Andrew Fayden (Joe Flanigan) tengah berkunjung ke Moldova dalam rangka mempersiapkan ajang comeback-nya ke ring sambil mengajak istri dan putrinya. Tak butuh waktu lama bagi putrinya; Becky (Charlotte Beaumont), yang masih berusia 14 tahun, sekejap turut jadi korban penculikan. Ketika bantuan dari polisi lokal belum membuahkan harapan, seseorang bernama Selwyn (Kristopher Van Varenberg) yang tak lain adalah putra dari Samson sendiri yang bekerja sebagai anggota kedutaan besar Amerika Serikat di sana menyarankan Andrew untuk segera menemui Samson. Meski awalnya enggan terlibat, Samson akhirnya bersedia mengemban misi tersebut, menjadikannya kesempatan kedua demi menebus kesalahan masa lalunya.

6 Bullets mengusung narasi yang sederhana, bahkan sepintas tak ubahnya seperti rip-off dari Taken (2008) dengan sedikit elemen Man on Fire (2004). Yup, premis dasarnya masih sama, namun dengan cerdas, skripnya memasukkan beberapa twist and turn yang membuatnya tampil beda agar menjaga keseluruhan ceritanya tetap fresh dan menarik. Tidak seperti Bryan Mills, di mana justru putrinya sendiri yang jadi sasaran penculikan, Samson sama sekali tidak punya relasi apapun dengan para korban, karena apa yang dilakukan Samson murni lebih pada sebuah dedikasi. Film ini juga menawarkan atmosfer yang jauh lebih kelam ketimbang Taken.

Orang boleh saja beranggapan bahwa masa kejayaan Van Damme sudah pudar. Di usia senjanya, bintang laga yang mendapat julukan Muscles from Brussels ini justru tampak semakin matang dan bijak dalam memilih peran. Van Damme mungkin masih terlihat prima menghajar musuh-musuhnya, tapi kemampuan aktingnya pun tak kalah meningkat. Rasa bersalah yang dipendam Samson mampu diekspresikan dengan baik, membuat dirinya terjebak di posisi serba salah yang pada akhirnya sanggup memancing simpati penonton. Toh, Van Damme juga bisa tampil meyakinkan dalam menunjukkan sisi emosionalnya mengingat selama ini ia hanya dikenal sebagai bintang laga saja. Faktanya, Van Damme memang sudah tak lagi muda. Dari segi aksi, untungnya, ia mampu beradaptasi menggunakan gaya bertarung yang sesuai dengan usianya. Selagi Van Damme sesekali masih sanggup melempar beberapa tendangan andalannya, di sini ia lebih banyak menggunakan close-quarter combat saat mulai melibatkan aksi. 6 Bullets menghadirkan berbagai sekuens pertarungan jarak dekat, termasuk knife-fighting di adegan pembuka, pertarungan dalam kegelapan kala Samson menghajar sekelompok preman di sebuah klub malam, hingga tembak-menembak dan kejar-kejaran secara keseluruhan. Porsinya memang tak terlalu banyak, berhubung 6 Bullets lebih mengeksplorasi sisi depresif Samson di samping menyinggung tema human trafficking sebagai latar belakangnya, apalagi beberapa aksinya kehilangan sebagian efektivitasnya akibat faktor editing yang kurang mulus.

Cukup menyenangkan menyaksikan Van Damme kembali bermain bersama anak-anaknya; Kristopher Van Varenberg dan Bianca Bree. Dalam beberapa film terakhirnya, Van Damme memang gemar melibatkan kedua anaknya sebagai peran pendukung. Kali ini Kristopher kebagian peran yang bisa dibilang sudah ditakdirkan untuknya, yakni menjadi anak Van Damme sendiri. Menarik melihat bagaimana keduanya memancarkan kehangatan dan chemistry ikatan ayah dan anak yang begitu alami. Sayang, Bianca hanya tampil sekilas, namun cukuplah sebagai pemanis. Di saat Van Damme tengah absen di layar, posisinya digantikan oleh Joe Flanigan, yang seakan menjadi kontras figur seorang petarung yang juga bisa rapuh ketika dituntut berperan sebagai seorang ayah yang anaknya diculik. Inilah yang membedakan 6 Bullets dan Taken. Dan, sama seperti Kim, karakter Becky juga dibuat tak sebodoh anak-anak baru gede yang kebanyakan tampil annoying. Hanya saja, perubahan instan sang ibu yang diperankan Anna-Louise Plowman yang mendadak sanggup menenteng senjata api mungkin sedikit mengganggu.

Secara keseluruhan, kendati idenya tidak lagi orisinil, 6 Bullets merupakan film Van Damme yang cukup bagus untuk menambah daftar filmografinya, membuat keberadaannya patut diperhitungkan selayaknya In Hell (2003), Wake of Death (2004), dan JCVD (2008). Dari segi kurangnya porsi aksi yang diharapkan, film ini menutupnya dengan luapan emosi karakter Samson. Mungkin belum menyamai apa yang telah dicapainya di JCVD, namun Van Damme sudah memberikan performa terbaiknya ketimbang hanya sekadar menjadi tiruan Bryan Mills yang lebih mengandalkan pesona badass-nya, membuat Samson terlihat lebih manusiawi.

Advertisements

Posted on 01/02/2013, in Movies and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: