RESIDENT EVIL: DAMNATION (2012)

Director(s): Makoto Kamiya Cast: Matthew Mercer, Dave Wittenberg, Wendee Lee, Val Tasso, Courtenay Taylor, Salli Saffioti, Robin Sachs Runtime: 100 minutes Star:

Banyak yang menganggap film adaptasi game rata-rata cenderung kurang memuaskan, jika tak ingin disebut mengecewakan. Tanpa terkecuali franchise Resident Evil, yang meski menginjak film kelimanya tetap mampu konsisten bertengger di tangga box office dan berhasil membangun fan base tersendiri, konsensus umum sudah menjadi cukup bukti bagaimana franchise besutan Paul W.S. Anderson itu dinilai. Di mata publik, khususnya non-gamer, Resident Evil mungkin lebih identik dengan sosok Milla Jovovich sebagai Alice yang beraksi menghajar zombie-zombie berbekal kekuatan superhuman efek dari t-Virus. Dengan fokus yang lebih menitik beratkan pada segi aksi ketimbang menjaga premis survival horror itu sendiri, adaptasi live action-nya memang lebih menawarkan universe alternatif yang memisahkan diri dari fondasi materi sumber aslinya, meski di satu sisi, Anderson tetap memasukkan elemen-elemen kental dari game-nya. Resident Evil (2002) dan sekuel pertamanya; Resident Evil: Apocalypse (2004), minimal masih berupaya menampilkan atmosfer yang setia dengan versi game-nya. Sayangnya, selebihnya hanya mengandalkan style over substance dengan efek slow motion yang terlalu dieksploitasi di samping skrip yang buruk, di mana justru malah semakin menambah daftar film adaptasi game yang terperosok ke dalam jurang kegagalan. Tahun 2008 lalu, pihak Capcom Studios yang bekerja sama dengan Sony Pictures Animation dan Digital Frontier seakan mendengar gerutuan para fans dengan merilis film Resident Evil berbasis CG, yakni Resident Evil: Degeneration. Meski terhitung medioker, Degeneration setidaknya berhasil mematahkan tren film adaptasi game yang buruk. Kemunculan Resident Evil: Damnation sendiri di tahun ini memang hadir sebagai sekuel dari Degeneration yang sekaligus dijadikan sebagai strategi marketing untuk perilisan game Resident Evil 6.

Mengisi celah timeline kronologis antara Resident Evil 5 dan Resident Evil 6 dengan mengambil setting di sebuah negara pecahan Uni Soviet bernama East Slavic Republic, dikisahkan perang sipil antara tentara pemerintah dan para pemberontak terus membuat keadaan negara kecil di wilayah Eropa Timur tersebut semakin memanas. Perang yang terus berlarut-larut membuat kedua belah pihak meningkatkan pertahanan masing-masing, salah satunya dengan mulai melibatkan senjata biologis yang disebut Bio-Organic Weapon (BOW). Bertekad untuk mengungkap fakta sebenarnya, agen Leon S. Kennedy yang awalnya dikirim pemerintah untuk menyelidiki aktivitas BOW di sana, mengabaikan perintah saat dirinya ditarik mundur dari medan perang, yang malah membuatnya makin terseret ke dalam konflik politik kedua belah pihak yang tak hanya memaksanya untuk bertahan hidup dari teror penduduk lokal yang sudah terjangkit parasit Las Plaga, namun juga harus menghadapi ancaman para BOW yang dijadikan alat perang.

Dari segi visual, Damnation jelas telah mengalami peningkatan pesat dibanding Degeneration yang terlihat masih kaku. Hal ini tentunya cukup beralasan, mengingat Degeneration merupakan produksi empat tahun silam. Kualitas CG-nya cukup memanjakan mata, mulai dari style graphic novel di sekuens pembukanya, hingga animasi motion capture yang terasa semakin hidup dengan sentuhan rendering finalnya. Dari sisi kontras dengan Degeneration yang punya pace lebih lambat, Damnation memang lebih berorientasi ke segi aksi, namun dengan pendekatan yang jelas berbeda dibanding adaptasi live action-nya, di mana penerapan efek slow motion maupun first person view di beberapa sekuens aksinya terbukti efektif tanpa harus terlihat menyebalkan. Beberapa referensi momen ikonik game-nya, seperti kemunculan Licker pertama kali di Resident Evil 2, hingga adegan proses penginfeksian parasit Plaga Type-2 dari opening Resident Evil 5 turut disertakan. Keputusan untuk tetap menghadirkan film ini dalam rating R juga patut disambut gembira, yang menjadikan Damnation sebagai animasi CG berbalut aksi penuh gelaran gore, violence, gunplay, slow motion, serta close quarter combat yang memikat.

Namun, di balik segala suguhan visual dan aksi ciamik tersebut, satu hal yang menonjol dari Damnation adalah bagaimana plotnya berupaya menggabungkan ide perang sipil dan politik dengan tema survival horror sehingga menghasilkan sebuah kombinasi yang terbilang fresh. Menyaksikan BOW klasik seperti Licker dan Tyrant dimanfaatkan sebagai bentuk alternatif dari alat perang sekaligus mengenalkan Plaga carrier tipe baru yang bisa mengendalikan BOW layaknya hubungan ‘majikan dan budak’ merupakan tema baru yang belum pernah diangkat dalam franchise Resident Evil manapun. Memang, tak selalu elemen-elemen ini berpadu dengan baik, dan ada kalanya film ini terkadang hampir lupa diri sebagai film zombie yang seakan lebih mengumbar kritik pada sistem sosialisme. Bagi mereka yang lebih mengharapkan teror zombie terkait dengan materi asalnya, mungkin menganggap pendekatan baru ini sedikit mengecewakan, karena lebih banyak fokus ke sosok Licker yang secara mengejutkan kebagian porsi lebih besar. Namun di satu sisi, ini merupakan sebuah inovasi yang bisa dibilang jauh melampaui adaptasi live action-nya. Tentunya, akan sangat menarik apabila konsep ini bisa diterapkan pada sistem gameplay di versi game selanjutnya.

Sayangnya, mengingat Damnation sengaja disajikan sebagai fan service semata, film ini memang tidak membiarkan penontonnya berkenalan dengan setiap tokohnya secara mendalam, misalnya seperti hubungan Leon dan Ada Wong, karena fans dianggap sudah mengetahui sejarah keduanya tanpa harus repot-repot memberi pengenalan ini-itu. Semua karakter langsung digiring ke medan aksi. Ini jelas menjadi kendala bagi audiens di luar fans. Kendati disebut-sebut sebagai sekuel, tak ada intro singkat yang menjembatani Degeneration dan Damnation, bahkan tanpa eksposisi latar belakang agar dapat dipahami penonton awam. Berbagai referensi ke game-nya dan penggunaan terminologi Resident Evil seperti Plaga, BOW, Bioterrorism Security Assessment Alliance (BSAA), dan lainnya, juga akan membuat penonton awam kebingungan. Dan, sejujurnya bagi kalangan fans sendiri, masih banyak segudang pertanyaan lain yang belum terjawab di film ini dengan ending yang juga menggantung. Namun setidaknya, dengan kembalinya Makoto Kamiya di kursi sutradara, sama seperti prekuelnya, film ini dinilai lebih efektif menampilkan universe Resident Evil lewat garapan yang lebih sesuai dengan kontinuitas game-nya.

Advertisements

Posted on 05/11/2012, in Movies and tagged , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. wow mantaffffffffffffffffffffffffff game nya

  2. Keren di ahir dan sedikit di awal..di pertengahan seperti ada kekosongan.. Drama

  3. dini wahana

    keren jga .. aplagi adegan leon s kennedy .. 😀 mantap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: