BULLET TO THE HEAD (2013)

Sutradara: Walter Hill Naskah: Alessandro Camon Pemain: Sylvester Stallone, Sung Kang, Jason Momoa, Sarah Shahi Durasi: 92 menit Nilai:

Sepasang pembunuh bayaran profesional, James “Jimmy Bobo” Bonomo (Sylvester Stallone) bersama rekannya, disewa untuk menghabisi seorang polisi korup. Semuanya berjalan sesuai rencana, sampai Jimmy harus kehilangan rekannya karena mati di tangan pembunuh bayaran lain bernama Keegan (Jason Momoa). Demi membalaskan kematian rekannya itu, Jimmy terpaksa bekerjasama dengan seorang detektif asal Washington, D.C., Taylor Kwon (Sung Kang) yang memang ditugaskan untuk menyelidiki kasus kematian polisi korup tersebut.

Setelah kegagalan finansial yang diperoleh The Last Stand tempo hari, sebenarnya cukup penasaran juga melihat bagaimana Bullet to the Head nantinya bisa bersaing di tangga box office AS, mengingat awal tahun ini kita seperti dibawa kembali ke masa kejayaan film-film action yang dulu mewarnai bioskop era ’80 hingga ’90an. Bedanya, sekarang tahun 2013, dan dua-duanya ternyata flop di pasaran. Menawarkan sajian action bernuansa old school, film yang dinahkodai oleh sutradara legendaris Walter Hill ini nyatanya juga harus gigit jari. Nama Sylvester Stallone atau bahkan Hill sendiri rupanya tak lagi menjadi jaminan yang sanggup menuntun penonton generasi sekarang berbondong-bondong datang ke bioskop. Apakah ini berarti genre action sejenis sudah dianggap mati? Entahlah, mungkin orang-orang memang tak lagi tertarik dengan genre ini, terutama bagi penonton kritis yang jauh lebih mengutamakan tontonan berkualitas. Film ini bernaung di bawah bendera After Dark Films, yang biasanya dikenal merilis koleksi horor indie secara tahunan dan belakangan tengah gencarnya merilis seri action untuk distribusi home video. Dengan kata lain, Bullet to the Head memang dibuat sebagai throwback untuk film-film action kelas B yang lebih bisa dinikmati oleh para penggemarnya atau fans setia Stallone saja. Tidak kurang, tidak lebih.

Naskah yang ditulis oleh Hill sendiri beserta Alessandro Camon di sini juga bukanlah skrip sebuah film action yang bisa dianggap orisinil. Sepak terjang pasangan mismatch memburu kriminal, dengan agenda pribadi masing-masing di belakangnya, tentu sudah sering kali dibuat, yang sedikit banyak mengingatkan kita akan 48 Hrs. (1982), Red Heat (1988), atau Showdown in Little Tokyo (1991). Meski dari luar kulitnya tampak seperti buddy movie yang kentara, film ini sebenarnya tidak mengambil rute yang diharapkan dari sebuah buddy movie. Jimmy Bobo dan Taylor Kwon memang dipaksa keadaan untuk bekerjasama, yang dengan sendirinya membangun semacam hubungan mutual respect, tapi toh, keduanya terang-terangan tak terlalu menyukai satu sama lain. Relasi dinamis antara mereka itu, meski harus diakui tak punya kedalaman chemistry atau bromance layaknya pasangan klasik seperti James Crockett dan Ricardo Tubs dari Miami Vice atau Martin Riggs dan Roger Murtaugh di Lethal Weapon, setidaknya sudah bekerja cukup baik, di samping turut mencuatkan potensi humor di dalamnya.

Kendati demikian, hal yang menarik dari Bullet to the Head sebenarnya tak lain adalah orang di balik kamera itu sendiri. Sebagai veteran sejati genre crime action yang itupun sudah cukup lama absen sejak Undisputed hampir satu dekade lalu, kita masih bisa merasakan konfidensi dari seorang Hill yang pada usia 71 tahun harus diakui belum kehilangan sentuhannya. Di bawah arahannya, film yang diadaptasi dari novel grafis karya Alexis Nolent yang aslinya berjudul Du Plomb Dans La Tete ini terasa penuh nostalgia, dengan sebagian besar setting-nya yang kental akan feel film-film action klasik khas ’80an, lengkap dengan dukungan score bernuansa blues gubahan Steve Mazzaro yang sukses menangkap atmosfer magnetik dunia underground New Orleans. Dan, seperti yang diharapkan dari film besutan Hill, elemen aksinya juga dihadirkan cukup keras, mulai dari sekuens baku tembak hingga melibatkan pertarungan tangan kosong yang menuntun penontonnya ke highlight pada bagian klimaks film ini, di mana kita dapat menyaksikan baku hantam antara Rambo versus Conan yang cukup brutal dan seru.

Advertisements

Posted on 28/02/2013, in Movies and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: