UNLEASHED / DANNY THE DOG (2005)

Director(s): Louis Leterrier Cast: Jet Li, Bob Hoskins, Morgan Freeman, Kerry Condon, Dylan Brown, Silvio Simac, Michael Ian Lambert, Scott Adkins Runtime: 103 minutes Star: 

Danny (Jet Li) bagaikan seorang bocah yang terperangkap dalam wujud pria dewasa, namun menyimpan bakat tarung yang luar biasa. Diperlakukan bak anjing peliharaan dengan collar di leher oleh mafia rentenir yang mengurusnya sejak kecil bernama Bart (Bob Hoskins), Danny memang tak pernah mengenal kehidupan lain di luar menuruti segala perintah majikannya itu demi satu tujuan; menghabisi klien-klien Bart yang tak sanggup melunasi hutangnya. Sampai takdir mempertemukannya dengan Sam (Morgan Freeman), seorang pria tunanetra yang kesehariannya mencari nafkah sebagai tukang stem piano. Melalui bimbingan Sam dan putri tirinya; Victoria (Kerry Condon), Danny belajar makna tentang kehidupan dan mengekspresikan sisi humanisnya — sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sayangnya, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Selain berusaha membebaskan diri dari belenggu masa lalunya yang kelam, Danny juga mesti mati-matian melindungi Sam dan Victoria yang kini telah menjadi keluarga barunya dari incaran Bart yang rupanya tak rela membiarkan Danny pergi begitu saja.

Disutradarai oleh Louis Leterrier (The Transporter, The Incredible Hulk) dengan skrip yang ditulis secara eksklusif untuk Jet Li oleh Luc Besson (Léon: The Professional, The Fifth Element) sekaligus menjadi kolaborasi ke-2 mereka pasca Kiss of the Dragon, Unleashed yang juga berjudul Danny the Dog untuk perilisan di Eropa, bisa dibilang sebagai satu dari sekian film Li yang dikemas secara unik semenjak juara wushu asal Beijing ini meniti karirnya di luar asia, yang ironisnya rata-rata divonis mengecewakan, sehingga membuat para fans selalu skeptis setiap kali mendengar Li kebagian peran yang mengharuskan dirinya berdialog dalam bahasa Inggris. Dengan mengawinkan unsur drama dan aksi bela diri yang kali ini turut merekrut Yuen Woo-ping (Iron Monkey, trilogi The Matrix) sebagai penata laganya, bisa dilihat, film ini memang tengah mencoba sesuatu yang baru untuk genre-nya. Meminjam elemen Léon: The Professional dengan sedikit perombakan pada konsepnya, premisnya mungkin terdengar sedikit menggelikan, ditambah perimbuhan kata “dog” pada judulnya yang bisa dianggap merendahkan etnis Cina oleh sebagian kalangan. Makna “dog” itu sendiri memang terasa kental, mulai dari pemakaian collar di leher Danny, hingga tokoh Sam yang dibuat tak dapat melihat seolah menekankan imej yang identik dengan anjing setia dan majikannya yang buta. Namun terlepas dari semua itu, dasar kisah film ini sebenarnya sudah cukup menarik dan patut mendapatkan kredit tersendiri karena berani menyuguhkan cerita yang berbeda.

Di sini, kemampuan akting Li seakan tengah diuji. Sepanjang film, kita diajak mengikuti perkembangan karakter Danny lewat transformasi yang cukup emosional dan pada akhirnya memancing simpati penonton. Apalagi melihat sifat Bart yang licik dalam memanfaatkan potensi Danny yang dianggap tak lebih dari sekadar “mesin pengeruk uang” di balik dalih sebagai satu-satunya orang yang peduli pada Danny di dunia ini. Musik, tepatnya piano, punya andil cukup besar dalam perkembangan karakter Danny. Saat pertama kali mendengar Sam menyetem piano, Danny langsung tertarik, dan berlanjut menjadi sarana yang membantu perubahan karakternya sedikit demi sedikit. Dengan kata lain, musik menyelamatkan hidup Danny. Relevansi ini yang kemudian dijadikan rekognisi hubungan Danny dengan masa lalunya yang berujung menggiring temanya secara full circle. Tidak seperti film-film barat Li lainnya di luar kerjasamanya dengan Besson, terutama bila menyinggung Romeo Must Die atau Cradle 2 the Grave, di mana Li kelihatan terpaksa membawakan peran yang sebenarnya kurang ia nikmati, di samping upaya meleburkan dirinya dengan dunia hip-hop yang hasilnya gagal total, Li tampak lebih nyaman dengan perannya di sini. Tentu saja, ia tidak akan memenangkan Oscar, tapi karakternya likeable, sehingga cukup membuat penontonnya percaya bahwa Sam dan Victoria tak perlu takut menerima Danny sebagai keluarga barunya.

Di luar kemampuan bela dirinya, setidaknya bagi sebagian besar penonton, Li bukan dikenal sebagai aktor dengan kualitas akting yang mumpuni. Namun, seperti Jean-Claude Van Damme yang pernah membuktikan kapabilitas aktingnya lewat JCVD yang turut menerima respon positif para kritikus, Unleashed seakan ingin mendobrak stereotip bahwa aktor laga tidak bisa akting. Pun, dengan dukungan aktor-aktor veteran seperti Bob Hoskins (Who Framed Roger Rabbit, Super Mario Bros.) dan Morgan Freeman (Se7en, Million Dollar Baby) tentunya cukup menambah greget film ini. Terlepas dari perbedaan karakter Bart yang licik maupun Sam yang bijak, keduanya mampu memberi keseimbangan persamaan figur seorang ayah buat Danny. Kerry Condon (Ned Kelly, This Must Be the Place) juga terhitung lumayan sebagai Victoria yang membawa sisi innocent dan melibatkan relasi awkward-nya dengan Li. Kendati beberapa sentuhannya patut diapresiasi, sayangnya, film ini kurang bekerja optimal secara keseluruhan. Rasanya seperti dua film berbeda yang digabungkan, di mana salah satunya merupakan sebuah drama sensitif seputar karakter Danny yang menemukan sisi kemanusiaan dalam dirinya, sementara sisanya adalah film aksi bela diri yang keras. Tensi film juga mulai mengendur saat memasuki porsi dramanya, serta diakhiri dengan ending yang sedikit absurd.

Berbicara mengenai aksinya, jika dibandingkan dengan kolaborasi Li dan Besson dalam Kiss of the Dragon sebelumnya, sebagian penonton mungkin merasa kecewa atas kurangnya kapasitas laga yang ditawarkan kali ini. Apalagi bagi fans yang sudah memasang ekspektasi cukup tinggi kala mendengar keterlibatan nama Yuen Woo-ping, karena baku hantam nyatanya bukan sepenuhnya murni menjadi jualan utama film ini. Bahkan boleh dibilang, porsinya relatif sedikit dibanding aspek drama yang lebih ditonjolkan, dan itupun dengan pengeksekusian yang juga tidak terlalu spektakuler. Namun di sisi lain, Yuen setidaknya berupaya menghadirkan sajian pertarungan yang berbeda lewat perpaduan bela diri tradisional dan jalanan, di samping membubuhi sedikit elemen wire fu. Hasilnya memang tidak sia-sia, karena sukses meninggalkan kesan brutal, keras, namun efektif. Adapun nama-nama bintang laga langganan seperti jagoan taekwondo asal Kroasia; Silvio Simac (DOA: Dead or Alive, Transporter 3), Scott Adkins (Ninja, Undisputed III: Redemption) yang saat itu memang belum terlalu populer, hingga keterlibatan Michael Ian Lambert (Thunderbolt, Who Am I?) yang disimpan sebagai tandingan Li di penghujung film sekaligus menjadi ajang reunian salah satu anggota Hong Kong Stuntmen Association ini dengan Li pasca Black Mask, terbukti masih mampu menarik perhatian para pencinta laga. Menariknya, di balik segala aksi brutalnya, film ini seakan malah menyisipkan pesan anti kekerasan sebagai kontrasnya.

Advertisements

Posted on 10/12/2012, in Movies and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: