Ong Bak 3 (2010)

Durasi: 99 menit   Rating:

RASANYA TIDAK BERLEBIHAN jika nama Tony Jaa disebut-sebut melakukan gebrakan di tahun 2003 dengan aksi-aksi spektakuler Muay Thai-nya lewat Ong Bak, dimana saat itu perfilman martial arts Hong Kong ironisnya bisa dibilang tengah lesu dan sama sekali tidak melahirkan talenta-talenta baru. Kehadiran Ong Bak faktanya memang membuat para pecandu aksi-aksi bela diri berdecak kagum. Jaa yang memiliki nama asli Panom Yeerum ini ibarat muncul di saat yang tepat dengan kemampuannya yang luar biasa dan koreografi pertarungan yang tampil jauh lebih dahsyat. Popularitas Jaa semakin melambung ketika ia merilis film terbarunya, Tom Yum Goong pada tahun 2005, yang kemudian lebih dikenal dengan judul The Protector ketika rilis di Amerika Serikat setahun kemudian. Pendek kata, hanya dengan dua judul film, Jaa sudah membuat seluruh dunia memujanya.

       Sayang, nampaknya Jaa tenar sebelum matang. Popularitas mendadak yang tidak dibarengi dengan kematangan karakter membuat Jaa ingin sedini mungkin mewujudkan ambisinya untuk menyutradarai filmnya sendiri. Keputusan mengikuti jejak idolanya, Jackie Chan, untuk segera menjadi penulis cerita, penata laga, sekaligus sutradara memang terdengar ‘rakus’ dan terburu-buru. Prachya Prinkaew sempat memperingati Jaa agar tidak mengambil langkah itu. Ambisi dan ego yang sudah terlampau tinggi nampaknya membuat Jaa gelap mata, sehingga tidak menggubris peringatan seorang sahabat sekaligus sutradara Ong Bak tersebut. Belum lagi kasus ‘masa produksi’ yang menimpanya membuat karirnya bak di ujung tanduk.

       Kisah Ong Bak 3 sendiri masih melanjutkan akhir dimana Ong Bak 2 (2008) meninggalkan penontonnya, yang mengharuskan Tien (Tony Jaa) menerima kenyataan pahit siapa dalang di balik pembantaian kedua orang tuanya, keluarga bangsawan Sihadecho (Santisuk Promsiri). Tien yang kemudian ditangkap oleh Rajasena (Sarunyoo Wongkrachang) mengalami siksaan yang tak henti-hentinya oleh algojo-algojo bawahan Rajasena hingga tulang dan persendiannya hancur dengan tujuan agar segala kemampuan yang dimiliki Tien musnah dan dibuat mati secara perlahan-lahan.

       Nasib mujur berpihak kepada Tien, dimana ia diselamatkan oleh sekelompok pendekar ketika dirinya hampir mati oleh siksaan Rajasena. Sekedar menyegarkan ingatan, para pendekar ini dulunya yang pernah membekali Tien dengan segala macam ilmu bela diri, yang tak lain adalah anak buah Chernang (Sorapong Chatree), ayah tiri Tien sendiri. Tien kemudian dibawa kembali ke desa Kana Khone. Di desa ini, Tien bertemu dengan guru Bua (Nirut Sirichanya) dan Pim (Primorata Dejudom), teman masa kecil sekaligus love interest-nya. Lewat bimbingan mereka, Tien belajar untuk keluar dari kegelapan masa lalunya, dan mengalami reinkarnasi yang membuat dirinya dibungkus bak kepompong sebelum terlahir kembali. Sedikit banyak mengingatkan dengan karakter Sing yang diperankan oleh Stephen Chow dalam Kung Fu Hustle pada tahun 2004 yang lalu.

       Di sinilah penonton diajak untuk melihat kepiawaian Jaa dalam memadukan gerakan-gerakan bela diri dengan Khon, tarian tradisional Thailand yang nantinya ia gunakan untuk melawan Bhuti Sangkha (Dan Chupong), atau yang lebih dikenal dengan sebutan Setan Gagak, pembunuh sewaan Rajasena di Ong Bak 2. Kali ini Bhuti Sangkha kebagian porsi peran yang jauh lebih besar sebagai penjahat utama dibanding sebelumnya yang hanya sekedar numpang lewat, dikarenakan adanya masalah produksi yang mengharuskan Jaa berbagi layar dengan Chupong. Bagi penikmat film-film laga Thailand, nama Chupong sendiri tentunya terdengar tak asing lagi. Karena aktor yang juga seorang stuntman layaknya Jaa ini pernah bermain dalam Born to Fight (2004) dan Dynamite Warrior (2006).

       Apa yang dihadirkan Ong Bak 3 di sini membuat Ong Bak 2 terasa sedikit lebih baik, khususnya pada bagian klimaks pertarungan. Meski Ong Bak 2 juga terbilang mengecewakan, namun dari segi aksi, Jaa boleh dibilang masih mampu memuaskan para penggemar laga dengan variasi aliran-aliran bela diri dan adegan baku hantam ketika Tien seorang diri melawan segerombolan musuh-musuhnya.

       Berbeda dengan Ong Bak 3, dimana pertarungan akhir antara Jaa dan Chupong sangat jauh dari kata memuaskan serta tidak bersemangat. Jaa memilih terlalu sibuk dengan adegan-adegan slow motion dibanding apa yang pernah ia sajikan lewat Ong Bak dan Tom Yum Goong sehingga menimbulkan kebosanan. Sangat menyia-nyiakan potensi yang mempertemukan dua bintang laga, dimana seharusnya bisa dieksekusi jauh lebih baik. Apalagi tidak didukung dengan fondasi cerita yang kuat.

       Seperti yang diketahui, jalinan kisah yang ada sejak Ong Bak 2 sangatlah kelam. Baik secara cerita, maupun karakter Tien sendiri. Seolah-olah Tien tertimpa karma yang sangat buruk sehingga harus terus-menerus mengalami kenyataan pahit yang tak kunjung henti, melibatkan kehilangan anggota keluarga, pengkhianatan, siksaan, dan balas dendam. Pada akhirnya, sebuah penebusan dan reinkarnasi harus dilewati Tien guna membayar segala dosa-dosanya di masa lalu. Tema penebusan seperti ini sebenarnya bukanlah hal baru dalam film-film laga kolosal, khususnya asia. Sebut saja Fearless (2006), atau Shaolin (2011). Ini menandakan bahwa memang tidak ada sesuatu yang baru dari segi cerita yang ditawarkan.

       Jaa nampaknya berambisi untuk membuat sebuah kisah silat klasik epic versi Thailand, yang sayangnya tidak diimbangi dengan kemampuan penyutradaraannya yang baru seumur jagung. Ong Bak 3 sangat lemah dari segala sisi. Aksi-aksi laga yang ada faktanya juga tidak dapat menyelamatkan keburukan dari akhir kisah trilogi ini. Alangkah lebih baik bila awalnya Jaa tetap berpegang pada apa yang menjadi keahliannya di luar naskah dan penyutradaraan.

       Kabar terakhir terdengar bahwa Jaa telah selesai menjalani masa vakumnya di sebuah biara, dan akan kembali ke industri film. Bahkan aktor senior Hong Kong seperti Sammo Hung pun nampaknya telah siap ‘menampung’ bakatnya, selain terdengar kabar lain bahwa sekuel Tom Yum Goong akan segera dibuat. Bak karakter Tien yang diperankannya sendiri, Jaa juga diibaratkan mengalami ‘reinkarnasi’ yang semoga saja membuat dirinya belajar dari kesalahan. Karena aksi-aksinya tentu tetap masih ditunggu oleh para penggemarnya setianya.

Advertisements

Posted on 17/05/2011, in Movies and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. bagus koq ongbak 3,…bahkan lebih spiritual dari ongbak ongbak sebelumnya, disini kita disuguhkan “kedalaman” …jika dalam ongbak sebelumnya melulu tentang baku pukul dan sepak terjang,..disini jaa mengambil filosofi filosofi budhisme yang kental dengan tradisi thai…

    ada satu quote yang diberikan oleh sang monk kepada tien saat tien dalam masa sulit yang saya kenang bagian terbaik dalam film ini, ( masa kehlangan kekuatan saat cidera parah),..kalimatnya kira kira seperti ini :

    “ingatlah selalu, dimana kamu menemukan bayangan,..didekatnya ada sumber cahaya”..( silahkan diartikan sendiri artinya….), anyway,..its a good movie overall…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: